Sehubungan dengan tugas sebagai seorang PM, pada kesempatan ini untuk lebih memudahkan dalam memahami apa dan bagaimana ruang lingkup kerja seorang project manager, disini akansaya ambil contoh dengan pembangunan sebuah rumah. Jika anda suatu saat akan membangun sendiri sebuah rumah idaman, tentunya banyak hal yang perlu disiapkan. Contoh disini diharapkan mudah untuk dipahami, demikian juga dengan implementasinya. Disisi lain, penulis juga memiliki pengalaman dalam membangun rumah ini, walaupun sebenarnya bukan dari lulusan teknik sipil ataupun arsitektur, tapi cukup aplikatif jika dianalogikan. Tentu saja saat melakukan ini, dengan berbagai masukan (baik dari media, internet maupun majalah dan buku-buku) dari sana sini, terutama dari para expert di bidangnya.

Jika dibandingkan dengan tahapan dalam sebuah project dari awal sampai akhir kurang lebih detail job yang harus dilewati dalam sebuah project adalah sebagai berikut:

1.Initiating (pembukaan)
2.Planning (perencanaan)
3.Executing (pelaksanaan)
4.Monitoring (monitoring/pengawasan) dan
5.Closing (penutup)

Berikut penjelasan dari masing-masingnya:

1.Initiating (pembukaan)

Pada tahap ini, akan diputuskan dari sisi analisa terlebih dahulu, apakah akan membeli rumah yang langsung jadi (tinggal pilih dari developer perumahan)? atau akan membangun sendiri? ataukah cukup dengan menyewa? Jikapun akan membeli dari developer, pertimbangan untuk memilih lokasi, akses jalan, fasilitas atau bahkan kedekatan dengan famili yang lain bisa jadi pertimbangan tersendiri.

Pada tahap ini, jika pilihan final-nya diputuskan untuk membangun sendiri tentu saja didasarkan pada pertimbangan banyak faktor. Jadi pada tahap ini, semua analisa dan perhitungan harus dimasukkan sebagai dasar untuk memutuskan, apakah akan membeli, bangun sendri atau menyewa/kontrak.

Demikian juga dengan pemilihan secara lebih detail, dari mulai ukuran rumah, apakah akan digunakan untuk 4 orang atau 8 orang dan seterusnya, akan dibangun di daerah mana? lokasi yang jauh dari jalan raya? atau cukup di kampung dekat desa? Atau di lingkungan perumahan yang sudah menyediakan lahan kosong dengan segala fasilitas yang ada di sebuah hunian dalam perumahan.

Tentu saja dari sini akan banyak pertimbangan yang perlu direnungkan. RUmah yang jauh dari sarana industri, yang dekat dengan pedesaan yang tidak terlalu ramai, dengan kondisi lingkungan yang baik untuk perkembangan anak (misalnya) bisa jadi merupakan pertimbangan dalam memilih tempat yang terletak agak jauh dari kota. Demikian juga dengan kemudahan untuk akses ke sarana hiburan, atau yang lainnya.

Apapun keputusan akhir, harus ditentukan oleh yang memiliki wewenang, dalam hal ini suami dan istri, dengan masukan dan pertimbangan dari saudara, teman, tetangga dan yang lainnya.

Dalam sebuah project, tidak jauh berbeda dengan kasus ini, pada tahap ini hasil final merupakan putusan dari stakeholder, yaitu mereka yang berkepentingan akan project ini yang diharapkan dengan project ini akan mendapatkan manfaat maupun kemudahan dalam proses produksi, ataupun efisiensi dalam proses pengerjaannya.

Pilihan yang sama juga akan berlaku, apakah akan menggunakan product yang sudah jadi (tinggal beli) ataupun bisa sewa/rent, atau bahkan harus diputuskan untuk membangun/membuat sendiri. Keputusan ini tentu saja berdasarkan waktu, biaya, ruang lingkup maupun sumberdaya yang dibutuhkan, yang dalam istilah project management adalah triple constraint: time, cost & scope.

(bersambung)

Iklan